Kamis, 06 Oktober 2011

Apresiasi Prosa Indonesia


Apresiasi Prosa Indonesia
Hakikat Apresiasi Prosa
Kata apresiasi secara harfiah berarti ‘penghargaan’ terhadap suatu objek, hal, kejadian, atau pun peristiwa. Untuk dapat memberi penghargaan terhadap sesuatu, tentunya kita harus mengenal sesuatu itu dengan baik dan dengan akrab agar kita dapat bertindak dengan seadil-adilnya terhadap sesuatu itu, sebelum kita dapat memberi pertimbangan bagaimana penghargaan yang akan diberikan terhadap sesuam itu. Kalau yang dimaksud dengan sesuatu itu adalah karya sastra, lebih tepat iagi karya sastra prosa, maka apreciasi itu berati memberi penghargaan dengan sebaik-baiknya dan seohjektif mungkin terhadap karya sastra prosa itu. Penghargaan yang seobjektif mungkin, artinya penghargaan itu dilakukan setelah karya sastra itu kita baca, kita telaah unsur-unsur pembentuknya, dan kita tafsirkan berdasarkan wawasan dan visi kita terhadap karya sastra itu.

Seperti sudah dibicarakan, prosa atau prosa fiksi adalah sebuah bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk bahasa yang tidak terikat oleh jumlah kata dan unsur musikalitas. Bahasa yang tidak terikat itu digunakan untuk menyampaikan tema atau pokok persoalan dengan sebuah amanat yang ingin disampaikan berkenaan dengan tema tersebut. Oleh karena itu, dalam apresiasi dengan tujuan tnembenkan penghargaan terhadap karya prosa itu, kita haruslah bisa “membongkar” dan menerangjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan ukuran keindahan dan “kelebihan” karya prosa itu.

Dengan demikian, penghargaan yang diberikan dapat diharapkan bersifat tepat dan objcktif. Suatu apresiasi sastra, menurut Maidar Arsjad dkk dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap-tahap itu adalah.
1. Tahap penikmatan atau menyenangi. Tindakan operasionalnya pada tahap ini adalah
misahiya membaca karya sastra (puisi maupun novel}, menghadiri acara deklamasi, dan
sebagainya.
2. Tahap penghargaan. Tindakan operasionalnya, antara lain, melihat kebaikan, nilai, atau
manfaat suatu karya sastra, dan merasakan pengaruh suatu karya ke dalam jiwa, dan
sebagainya.

3. Tahap pemahaman. Tindakan opersionalnya adalah meneliti dan menganalisis unsur
intrinsik dan unsur ektrinsik suatu karya: astra, serta berusaha menyimpulkannya.

4. Tahap penghayatan. Tindakan operasionalnya adalah rnenganalisis lebih lanjut akan suatu
karya, mencari hakikat atau makna suatu karya beserta argumentasinya; membuat tafsiran
dan menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah dibuat.

5. Tahap penerapan. Tindakan operasionalnya adalah mclahirkan ide baru, mengamalkan
penemuan, atau mendayagunakan hasil operasi dalam mencapai material, moral, dan
struktural untuk kepentingan sosial, politik, dan budaya.

Khasanah Prosa Indonesia
Kalau prosa kita artikan sebagai karangan dengan bahasa yang tidak terikat sebagai dikotomi dari puisi yang disajikan dalam bahasa yang terikat (dengan jumlah baris dan irama persajakan), maka semua karya sastra prosa dari kesusasteraan lama dapat kita masukkan sebagai prosa Indonesia. Jadi, semua dongeng, legcnua, hikayat, fabel, dan cerita rakyat seperti Dongeng Sang Kancil. Hikayat Si Miskin, Hikayat Pendawa Lima, Hikayat Amir Hamzah, legenda terjadinya Tangkuban Perahu, dan sebagainya adalah termasuk karya prosa Indonesia. Di sini termasuk karya seperti Sejarah MejayiL Kisah Pelayaran Abdullah ke Negari Mekah, dan lain sebagainya.

Karya prosa modem Indonesia dimulai dari buku-buku terbitan Balai Pustaka seperti Si Jamin dan Si Johan, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Saiah PiHhj Sengsara Membawa Nikmat. dan sebagainya. Di luar Balai Pustaka sebenarnya ada pula buku-buku cerita yang diterbitkan; tetapi karena bahasanya “kurang tcrpelihara” maka sering tidak dianggap atau tidak dibicarakan sebagai karya sastra Indonesia. Prosa-prosa produk zaman Balai Pustaka kebanyakan karya mengangkat persoalan adat sebagai tema, dan belurn mengangkat masalah sosial budaya. Oleh karena itu, konflik-konflik yang ierjadi hanyalah seputar pertentangan golongan yang mempertahankan adat dengan golongan yang ingin meninggalkan adat karena dianggap mengekang kebebasan dan kemajuan.

Zaman Balai Pustaka dilanjutkan oleh yang disebut Angkatan Pujangga Baru. Prosa pada angkatan ini sudah tidak banyak lagi bertemakan adat atau pertentangan adat melainkan sudah mengangkat juga persoalan sosial seperti dalam roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana yang mengangkat masalah emansipasi wanita; novel Belenggu karya Armyn pane yang mengangkat masalah kehidupan sosial seorang dokter, istrinya, dan seorang pasien wanita. Sutan Takdir meskipun disebut-sebut sebagai tokoh Pujangga Baru, namun dia sebelumnya sudah menulis prosa jauh sebelum itu, dan karya-karyanya juga banyak dihasilkan setelah itu. Prosanya yang lain adalah Tak Putus Dirundung Malang, dan Grotta dan Azura yang ditulisnya pada tahun enani puluhan.

Zaman Jepang (1940-1945) adalah zaman susah akibat perang Asia Timur Raya dan pendudukan tentara Jepang atas Indonesia. Pada masa ini karya sastra kebanyakan berupa puisi yang bersifat simbolis karena tidak berani berterang-terangan, takut akan ancaman kempetai Jepang. Prosa yang muncul hanyalah berupa corat-caret, sketsa, dan kisah-kisah pendek dari pengarang Idrus. Itu pun baru diumumkan setelah Jepang kalah perang. Judul-judul prosanya antara lain “Corat-Caret di bawah Tanah”. “Kota harmoni”, Sanyo”, “Oh..oh”, dan “Aki”. Kalau Chairil Anwar disebut sebagai pelopor Angkatan ’45 dalam bidang puisi, maka Idrus adalah pelopor Angkatan ’45 dibidang prosa. Keduanya disebut sebagai pelopor karena keduanya membuat pembaharuan dalam memberi corak karya sastra mereka yang berbeda dengan karya angkatan sebelumnya.

Setelah Jepang pergi pada tahun 1945, dan negeri kita diamuk suasana revolusi sejumlah karya prosa muncul. Pada 1948 terbit karya Idrus Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roman yakni kumpulan cerita pendek yang dimulai dengan cerpen “Ave Maria” dan berakhir dengan cerpen “Jalan lain ke Roma” Namun, didalam buku itu pun aoa naskah drama yang berjudul “Kejahatan Membahas dendam”. Pengarang lain adalah Pramudya Ananta Tur yang dalam prosa-prosanya banyak melukiskan kedahsyatan revolusi Indonesia. Karyanya antara lain Keluarga Gerilya (novel), Mereka yang Dilumpuhkan (novel), Percikan Revolusi/kumpulan (cerpen), Perburuan (novel), Subuh (novel), dan Di Tepi Kali Bekasi (novel).
Novel lain yang muncul pada masa revolusi adalah Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja, Tidak Ada Esok dan Jalan Tak ada Ujung karangan Mochtar Lubis.
Terlepas dari ide yang dikandung di dalamnya, H.B. Jassin menyatakan bahwa “Surabaya” karya Idrus, Keluarga Gerilya karya Pramudya dan Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis merupakan puncak kesusastraan angkatan ’45 sampai sakarang.
Revolusi berakhir pada akhir Desember 1949 dan Indonesia secara de facto dan de yure menjadi negara merdeka. Namun, pada awal kemerdekaan ini kegiatan sastra tampaknya lebih banyak pada karya puisi dan cerita pendek. Banyak pengarang muncul bersama cerpennya yang dipublikasikan dalam buku kumpulan cerita pendek. Mereka itu antara lain Subagio Sastrawardaya, N.H. Dini, S.M. Ardan, Sukanto S.A., A.A. Navis, Trisnoyuwono, dan Nugroho Notosusanto.
Karya mereka yang bisa disebutkan di sini antara lain, adalah Terang Bulan Terang di Kali (kumpulan cerpen) dan Nyai Dasima karya S.M. Ardan, Hitam Putin (kumpulan cerpen) karya Mohamad Ali, Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen) karya A.A. Navis, Kawat Berduri karya Trisno Yuwono. Pulang (novel) karya Toha Mochtar, Hati yang Damai dan Dua Dunia karya N.H. Dini, dan Daun Kering karya Trisno Sumardjo.
Scsudah huru-hara G 30S/PKI laluin 1965 khasanah prosa Indonesia tetap didominasi oleh cerpen, meskipun karya novel juga tidak kurang, tetapi lebih banyak pengarang dikenal knrcna karya ccrpennya. Walaupun dcmikian novel-novel yang patut discbutkan scsudah huru-hara G 30 S/PKI itu, antara lain adalah Harimau-Harimau dan Maut dan Cinta keduanya karya Mochtar Lubis, Jalan Terbuka karya Ali Audah, Sepi Terasing karya Aoh K. Hadimadja; Tidak Menyerah. Jentera Lepi, Kubah, dan Bawuk, keempatnya karya Umar Kliayam, Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, Kalah dan Menang karya Sutan takdir Alisyahbana, Telegram karya Putu V/ijaya, Pada Sebuah Kapal karya N.H. Dini; Ziarah dan Merahnya Merah keduanya karya Iwan Simatupang; Karmila karya Marga T; Wajah-Wajah Cinta karya La Rose; dan sejumlah novel lainnya.
Seperti disebutkan di atas bahwa cerita pendek mendominasi prosa Indonesia mutakhir, hal itu tampak dari banyak cerita pendek yang dipublikasikan melalui berbagai majalah sastra maupun majalah umum, serta sejumlah buku kumpulan karya sastra seperti yang diedit oleh para cerpenis seperti Gerson Poyk, Umar Khayam, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Budi Darma, dan Danarto.

Langkah-Langkah Apresiasi Prosa
Dalam berbagai buku sumber ada discbutkan langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan apresiasi sastra secara umum dan apresiasi karya sastra secara khusus. Yang disebut di bawah ini pada dasarnya tidak berbeda dengan yang disebutkan dalam buku-buku sumber itu.
Pertama, membaca novel (cerpen, romai;) itu secara tenang dan seksama. Kalau perlu bisa diiakukan dua tiga kali. Biasanya sebuah karya prosa yang baik akan mengundang kita untuk membacanya berkali-kali karena kita memperoleh kenikmatan dari pembacaan itu.
Kedua, mencoba mencari jati diri melalui prosa yang dibacanya.
Ketiga, mencoba menelaah apa tema cerita tersebut, dan mengetahui bagaimana tema itu disajikan, menelaah plot, penokohan, setting/latar, dan berbagai unsur instrinsik lainnya. Keempat mencoba menelaah amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dengan novel (cerpen, roman) tersebut.
Kelima, mencoba menelaah penggunaan bahasa yang digunakan dalam karya prosa tersebut melihat kekuatannya, dan mencari kekurangannya.
Keenam, mencoba menarik kesimpulan akan nilai karya prosa tersebut berdasarkan telaah objektif terhadap temanya, plotnya, perwatakannya, latarnya, dan sebagainya.

Teknik Pembelajaran Apresiasi Prosa
Pembelajaran apresiasi prosa dapat dilakukan sebagai berikut
Pertama, guru memilih sebuah novel atau cerita pendek yang sesuai dengan usia murid, tingkat kelas, dan norma kehidupan. Mengingat waktu yang terbatas barangkali cukup dipilih sebuah cerpen yang cukup pendek, Guru harus membacanya dulu, mempelajari semua unsui-unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik yang dijalin dalam cerpen tersebut sebaik-baiknya. Juga mencoba mencari informasi yang seluas-luasnya yang berhubungan dengan pengarang dan karya-karya pengarang tersebut.

Kedua, menyuruh murid membaca cerita pendek tersebut dengan serius (Andaikata cerita pendek tersebut cukup panjang, barangkali bisa juga sisv/a disuruh membaca dulu di rumah schari sebelumnya) sctclah selesai guru mengajukan pertanyaan, misalnya:
Bugaimana kesan Anda terhadap cerpen tersebut? hal-hal apa saja yang anda peroleh setelah membaca prosa tersebut?.
Kalau tidak ada yang menjawab, guru mcmberi pertanyaan penegasan: Menarikkah cerita tersebut? Jawaban siswa mungkin bermacam-macam (menarik, tidak menarik, membosankan, tidak tahu, dsb). Dari jawaban ini guru mengajak siswa untuk menelaahnya lebih jauh lagi.

Ketiga, guru membimbing siswa untuk menganalisis lebih jauh lagi mengenai unsur-unsur cerita tersebut, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan secara klasikal, dengan rnemanfaatkan interaksi guru-siswa, siswa-guru,dan siswa-siswa secara maksimal. Urutan penganalisisan dan jenis pertanyaan, pembimbingan dapat dilakukan sebagai berikut:
1. mengenai plot (alur) certia tersebut
2. mengenai tokoh-tokoh dengan wataknya masing-masing
3. mengenai sudut pandang atau pusat cerita teresebut
4. mengenai tema dan amanat dari cerita tersebut
5. mengenai penggunaan bahasa dan gaya bahasa yang dilakukan
6. mengenai unsur-unsur ektrinsik yang menunjang cerita tersebut
Keempat, setelah analisis selesai dilakukan, setiap siswa diminta menyusun pendapatnya mengenai cerita tersebut lengkap dengan alasannya. Satu dua siswa diminta membacakan pendapatnya di muka kelas.

Evaluasi Pembelajaran Apresiasi Prosa
1. Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan pembelajaran. Oleh karena pembelajaran apresiasi merupakan kegiatan praktik, maka evaluasi dilakukan terhadap kegiatan dan keikutsertaan dalam setiap kegiatan apresiasi. Evaluasinya meliputi tingkat informasi,konsep, perspektif dan apresiasi.
2. Laporan akhir siswa mengenai kegiatan apresiasi dapat pula dikaitkan dengan evaluasi kegiatan menulis sebagai komponen dari keseluruhan pengajaran bahasa.

Kesimpulan
1. Apresiasi prosa adalah kegiatan “menggauli” sebuah karya sastra prosa, untuk
kemudian memberi penghargaan terhadap karya sastra itu berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan objektif atas hasil analisis yang dilakukan terhadap karya prosa tersebut.

2. Materi prosa untuk bahan pembelajaran apresiasi dapat dipilih dari khazanah prosa
Indonesia yang cukup banyak.


3. Pembelajaran apresiasi dimulai dengan (a) guru memilih bahasa yang cocok,
mempelajari dulu, (b) menyuruh siswa membaca dengan baik, (c ) membimbing siswa
untuk menelaah unsur-unsur prosa tersebut, dan (d) meminta siswa menyusun laporan
tentang karya yang dibacam dengan bimbingan guru.
Baca Tulisan Lain

Rabu, 28 September 2011

Puisi Lama dan Puisi Baru

Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

A. PUISI LAMA

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :

- Jumlah kata dalam 1 baris

- Jumlah baris dalam 1 bait

- Persajakan (rima)

- Banyak suku kata tiap baris

- Irama

1. Ciri-ciri Puisi Lama

Ciri puisi lama:

a) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya

b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan

c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima

2. Jenis Puisi Lama

Yang termasuk puisi lama adalah

a) Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib

b) Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka

c) Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek

d) Seloka adalah pantun berkait

e) Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat

f) Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita

g) Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris


3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Lama

a) Mantra

Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

b) Pantun

Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati

c) Karmina

Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)

d) Seloka

Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan

e) Gurindam

Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )

f) Syair

Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

g) Talibun

Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu

4. Ciri-ciri dari jenis puisi lama

a) Mantra

Ciri-ciri:

Ø Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.

Ø Bersifat lisan, sakti atau magis

Ø Adanya perulangan

Ø Metafora merupakan unsur penting

Ø Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius

Ø Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.


b) Pantun

Ciri – ciri :

Ø Setiap bait terdiri 4 baris

Ø Baris 1 dan 2 sebagai sampiran

Ø Baris 3 dan 4 merupakan isi

Ø Bersajak a – b – a – b

Ø Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Ø Berasal dari Melayu (Indonesia)


c) Karmina

Ciri-ciri karmina

Ø Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.

Ø Bersajak aa-aa, aa-bb

Ø Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.

Ø Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.

Ø Semua baris diawali huruf capital.

Ø Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.

Ø Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.


d) Seloka

Ciri-ciri seloka

Ø Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,

Ø Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.


e) Gurindam

Ciri-ciri gurindam

Ø Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian

Ø baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

f) Syair

Ciri-ciri syair

Ø Terdiri dari 4 baris

Ø Berirama aaaa

Ø Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair

g) Talibun

Ciri-ciri:

Ø Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.

Ø Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.

Ø Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.

Ø Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.

Ø Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

B. PUISI BARU

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

1. Ciri-ciri Puisi Baru

a) Bentuknya rapi, simetris;

b) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);

c) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;

d) Sebagian besar puisi empat seuntai;

e) Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)

f) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.


2. Jenis-jenis Puisi Baru

Menurut isinya, puisi dibedakan atas :

a) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita

b) Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan

c) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa

d) Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup

e) Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih

f) Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan

g) Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:

a) Distikon

b) Terzina

c) Quatrain

d) Quint

e) Sektet

f) Septime

g) Oktaf/Stanza

h) Soneta

3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Baru

Contoh jenis puisi menurut isinya :

a) BALADA

Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “ Balada Matinya Aeorang Pemberontak”

b) HYMNE

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

Menggeliat derita pada lekuk dan liku

bawah sayatan khianat dan dusta.

Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu

menitikkan darah dari tangan dan kaki

dari mahkota duri dan membulan paku

Yang dikarati oleh dosa manusia.

Tanpa luka-luka yang lebar terbuka

dunia kehilangan sumber kasih

Besarlah mereka yang dalam nestapa

mengenal-Mu tersalib di datam hati.

(Saini S.K)

c) ODE

Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa

Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)

d) EPIGRAM

Hari ini tak ada tempat berdiri

Sikap lamban berarti mati

Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan

Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.

(Iqbal)

e) ELEGI

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar)

f) SATIRE

Aku bertanya

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur jidad penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,

termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.

(Rendra)

Contoh jenis puisi dari bentuknya :

a) DISTIKON
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

b) TERZINA
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane

c) QUATRAIN
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

d) QUINT
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

e) SEXTET
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

f) SEPTIMA
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)

g) STANZA ( OCTAV )
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

h) SONETA
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)

4. Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru

v Ciri puisi dari Jenis isinya :

a) Balada

Ciri-ciri balada

Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.

b) Hymne

Ciri-ciri hymne

Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra).
Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.

c) Ode

Ciri-ciri ode

Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.

d) Epigram

Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.

e) Romance

Romantique (Perancis); keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra

f) Elegi

Ciri-ciri elegi

Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.

g) Satire

Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc)

v Ciri puisi dari Jenis bentuknya :

a) Distikon

• 2 baris; sajak 2 seuntai
• Distikon (Greek: 2 baris)
• Rima – aa
– bb

b) Terzina

Terzina (Itali: 3 irama)

c) Quatrain

• Quatrain (Perancis: 4 baris)
• Pada asalnya ada 4 rangkap
• Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.

d) Quint

Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/

e) Sextet

• sextet (latin: 6 baris)
• Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’
• Rima akhir bebas

f) Septima

• septime (Latin: 7 baris)
• Rima akhir bebas

g) Oktav

• Oktaf (Latin: 8 baris)
• Dikenali sebagai ‘double Quatrain’

h) Soneta

ciri – ciri soneta :

· Terdiri atas 14 baris

· Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina

· Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.

· Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.

· Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam

· Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.

· Peralihan dari octav ke sextet disebut volta

· Penambahan baris pada soneta disebut koda.

· Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata

· Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.

Senin, 15 Agustus 2011

2 kali bedug


2 kali beduk ku tunggu
dahaga pun ta kunjung henti menggoda
haus haus haus!
ujian hawa nafsukah ini?


Sabtu, 23 April 2011

TIK

Naskah Drama
TIK











Karya:
Fadri Irman

TEATER OMBAK
SMA NEGERI I WANASALAM
BANTEN
Jl. Raya Binuangeun Kilometer 9 Sukatani Wanasalam 42391
TIM PRODUKSI


PELINDUNG :Allah SWT
PENASIHAT PRODUKSI : Nana Juhyana, M.Si. Barni, M.Pd.
PENANGGUNG JAWAB: Drs. Hadi Nugraha, M.Pd ( Kepala SMAN 1 Wanasalam )

PEMBINA : Fadri Irman, S.Pd
PIMPINAN PRODUKSI : Dadang Sadana
SUTRADRA : Fadri Irman, S.Pd

PEMAIN :
Kusnadi
Febi Milan
Haerudin

MUSIK BY
SAGALAKACABAK MUSIK


TEATER OMBAK MENGUCAPKAN TERIMAKASIH KEPADA :
Tuhan Yang Maha Esa, Tukang Sekolah , Tukang Jaga Kampus STKIP, Tukang Nasi Uduk, Tukang Jaga Rental Komputer, Tukang Edit, Tukang Bensin,
Tukang Bikin Acara, Tukang Sapu, Tukang Naskah, Tukang Mikir
Adegan, Tukang Mikir Musik, Tukang Bakwan, Tukang Kopi,
Tukang Pulsa, Tukang Jaga Hotel, Tukang Juri, dll

Sinopsis:
TIK
Karya: Fadri Irman, S.Pd.


Arya adalah Seorang lelaki separuh baya asik dengan memainkan jari-jemarinya di atas tombol mesin tik. Irama mesin tik tua itu membuatnya tidak kesepian karena menurut dia, nada yang dikeluarkan melebihi nada yang ada di dunia ini. Karena keasikannya dengan mesin tik ini terjadilah percekcokan dengan Lastri. Lastri adalah istri dari Arya. Lastri meminta Arya segera menghentikan kerjaannya dalam berkarya, sebab menurut Lastri itu tidak ada artinya. Lalu Arya pun memikirkan apa yang disamapikan Lastri dan Arya akan berhenti dalm berkaray. Tetapi ketika Arya akan berhenti berkarya muculah Lelaki dari masa silam.

Lelaki dari masa silam itu adalah Multatuli yang bangkit karena kerisauan penduduk pribumi. Sebenarnya Multatuli itu adalah jelmaan yang pernah ada dalam karya Arya. Multatuli menginginkan Arya terus berkarya, karena hanya Aryalah yang mampu memberontak melalui tulisan akan kekejaman dan penindasan para penguasa. Arya merasa bingung apa yang disampaikan Multatuli.

Tiba-tiba muncul Nyi Roro Kidul. dan meminta Arya agar menuliskan karya yang membuat namanya baik kembali. Sebab gara-gara penulislah nama dia dipercaya yang mengakibatkan kematian bagi yang hanyut ditelan ombak selatan.
.

Apakah yang terjadi pada diri arya?
Selamat Menyaksikan.










TIK
Karya: Fadri Irman


(Suara musik terdengar dengan permainan layar)
Arya : (Asik memainkan jari-jemarinya di atas mesin tik, sesekali dia melihat dengan penuh keabstrakan). “Tiap hentakan tik ini akan mengeluarkan bunyi, setiap bunyi menghasilkan irama dan irama menjadikannya senandung, maka akan muncullah ribuan nyawa yang keluar dari mesin tik ini berupa karya-karya nan agung. Sebab karya adalah nafas kebudayaan yang tidak bisa sirna ditelan masa.” (memperhatikan mesin tik, seolah-olah mesin tik ini memiliki nyawa) “kaulah tempat menyalurkan hasratku dalam setiap kekundahan ini.” (penuh dengan harapan, lalu dia terus memainkan jemarinya di atas tombol mesin tiknya lagi).
Lastri : “Pak? Hari sudah larut, lebih baik Bapak tidurlah dulu, sebab suara itu membuatku pening Pak?”
Arya : “Iya Bu, sebentar lagi.”(melanjutkan kegiatannya)
Lastri : “Setiap dikasih tau, jawabanya selalu itu-itu saja!” (menggurutu) memang Bapak membuat karya apa lagi?
Arya : “Aku membuat karya yang akan mengejutkan setip pembancanya dan penuh penyadaran”
Lastri : “Oh! Tapi Pak, apakah Bapak sadar dengan apa yang Bapak lakukan selama ini?”
Arya : “Maksudmu”
Lastri : “maksudku, Bapak malah mementingkan dunia Bapak sendiri, tanpa meperhatikan yang lain?” “bapak asik dengan kegiatan bapak sendri”
Arya : “Lastri, sudahlah jangan membuatku pusing dengan gumaman mu itu, aku tak mau rebut sayang” (Merayu)
Lastri : “sebaiknya berhenti dari pekerjaan Bapak,
Arya : “Berhenti katamu?
Lastri : “ya, berhenti!”
Arya : “Aku tak mungkin berhenti dari pekerjaanku.”
Arya : “baiklah kalau itu kemauanmu!”
Lastri : “Pikirkan sajalah sama Bapak, apa yang seharusnya Bapak perbuat!”
(meninggalkan Arya)
Arya : “Ah! dasar perempuan, paling-paling, ah! entahlah aku tak mau pusing.”(asik memainkan jari-jemariny, tiba-tiba dia teringat kembali akan omongan istrinya itu) “ Lastri maafkan aku, kalau selama ini aku kurang memperatikanmu, aku melakukan ini sebenarnya hanya untukmu sayang. Aku akan membuta penyadaran bagi setiap yang membaca karya-karyaku ini. (melamun).“ Tapi bila itu mau mu aku akan berhenti berkarya dan mencari pekerjaan lain.
(musik terdengar, munculah laki-laki dengan pakain yang aneh)
Multatuli : (tertawa dan mengejutkan Arya) “Arya teruslah kau berkarya!”
Arya : (terkejut dengan perasaan heran) “siapa kamu? Kenapa kamu tiba-tiba ada di tempatku!”
Mulktatuli : “hahahahhahahhahah”
Arya : “Kalau kau maling, kau salah masuk, aku ini orang tak berada, yang aku punya hanyalah mesin tik tua ini, tak ada yang bisa kau ambil.”
Multatuli : “Hahahahhahahahah ( berlari dan memperhatikan tiap sudut)
Arya : “Segera kau keluar dari rumah ku ini, sebelum aku panggilkan warga dan kuteriaki kau maling, mau!”
Multatuli : “Sebentar tuan, jangan terlalu terbakar emosi, aku bukanlah maling, aku bukanlah siapa-siapa, aku adalah apa yang ada dalam pikiranmu atau aku adalah ruh yang kau buat sendiri. Aku sebenarnya nurani yang risau akan jalan hidupmu. Arya! Kau manusia yang asik dengan duniamu sendiri, kau buat lakon-lakon yang belum tentu orang memahaminya, tapi kau tak pernah memikirkan keluargamu?”
Arya : “Keluarkau dari sini, jangan kau ikut campur urusanku!”
Multatuli : “Sabarlah dulu, daripada kau mati karena emosimu, lebih baik kau tenang sajalah. kau ini dipecat dari pekerjaanmu demi sebuah karya, tapi karyamu dimanfaatkan oleh orang-orang yang picik dan penjilat! Hahahahha. Sadarkah kau akan itu!” apalah artinya sebuah karya kalau akan menyengsaraakan akan hidupmu. Kau harus berbuat yang lebih, dari yang sebelummnya, sebab kalau kau melakuan itu dari lubuk hatimu dan menghilangkan ketakuatan kau akan dibaca dan menjadi catatan sejarah.”
Arya : “Siapa kua sebenarnya?”
Multatuli : “Aku adalah salah satu tokoh yang ada dalam catatanmu, dan aku pernah membuat sebuah karaya yang berjudul Saijah dan Adinda”
Arya : “Kau jangan mengada-ada, katakan saja siapa namamu?”
Multatuli : “Baiklah kalau kau penasaran, perkenalkan namaku adalah Multatuli, dating dari masa silam, karena kegelisahaanmu aku bagkit kembali.”
Arya : “Tidak mungkin, Multatuli itu sudah mati, kau jangan meracuni pikiranku?”
Multatuli : “Aku tidak meracuni pikiranmu, tapi aku datang dari masa silam, dan aku ingin membuatmu berani menghadapinya, sebab banyak pengaduan kaum pribumi yang kini terulang kembali pada masa sekarang.
Arya : “Pengaduan”
Multatui : “Ya? Pengaduan-pengaduan masa lalu, sama dengan pengaduan masa sekarang. Kekejaman dan pemerasan mulai terjadi kembali, itu dilakukan oleh para pengusa. Kau sebenarnya tahu akan itu, tapi kau tak berani menuliskannya, tulislah Arya, sebab kaulah yang bisa melakukannya. Daripada orang-orang yang mengaku penuis tapi penulis karena imbalan dan pesanan.”
Arya : “ocehan apa lagi yang kau kelarkan, kau jangan meracuni pikiranku dan jangan pula membuat celaka dalam hidupku”
Multatuli : “tak ada yang lebih celaka daripada membongongi rakyat, kau tahu tidak? Indonesia merdeka karena perjuangan dan persatuan, yang melakuannya adalah pahlawan yang gugur di medan perang demi kemerdekaan ini. Serta yang masih hidup sekarang telah menjadi tua renta dengan pensiunan yang sangat kecil.”
Arya : “Itu kan tak ada hubungan nya dengan hidupku sebagai penulis?”
Multatuli : “Pasti ada! Kau adalah titisan dari para pahlawan yang harus memberontak kepada para penguasa yang selalu otoriter, para koruptor dan orang-orang yang berpura-pura suci. Bayangkan olehmu, demi sebuah jabatan idealisme pun mulai tergadaikan, janji-janji palsu mulai bertebaran, mereka menina bobokan rakyat dan mereka bentuk kelompok untuk memperkuat kedudukannya, kau pun diperkosa oleh harapan. Jadilah kau sebagai pahlawan dari sebuah tulisanmu itu Arya!”
(Keluarlah Lastri/Nyirorokidul)
Lastri : “Betul! Bapak harus sadar akan itu. Dan aku setuju dengan apa yang Tuan katakana tadi!”
Arya : “Lastri kenapa kau ikut campur!”
Lastri : “Lastri! Aku bukanlah Lasrti, yang kau pikirkan selama ini. Aku adalah Ratu Pantai Selatan, aku hanya berpura-pura sebagai istimu. Istrimu sebenarnya sudah mati akan tingkah lakumu”
Arya : “Ada apalagi! Kenapa kau ini Lastri. Jaga sikapmu, Aku adalah suamimu Lastri!
Lastri : “Ya! Suami, suami siapa?.”
Arya : “ada apa lagi, kenapa ini jadi kacau, apakah aku sudah gila!”
Multatuli : “Kau tidak gila, tapi kau bisa gila dengan pikiranmu sendiri” (mendekatai Lastri) “apa yang akan kau adukan kepada penulis besar ini!”
Lastri : “Aku hanya ingin meluruskan nama baik ku, yang selama ini mereka sangka, bahwa aku adalah makhluk yang paling jahat. Aku selalu difitnah”
Arya :”Fitnah apa lagi ini!”
Lastri : “Setiap ada yang mati ditelan ombak, aku yang mereka sangka bahwa akulah yang melakuakannya”
Arya : “Aku gila dibuatnya ini”
Lastri : “Aku tak pernah melakukannya, mereka lalai, mereka hanyut, mereka tak bisa, tapi kenyaatannya aku selalu menjadi koraban fitnahan, aku menuntut pengarang cerita Nyiroro Kidul, sebab sampai sekarang setiap kematian di pantai selatan aku aku yang mereka sangka. Pulihkan kembali nama baikku Arya! Hanya kaulah yang mampu memulihkan nama baik ku dengan karyamu.
Multatuli : “ya aku bisa merasakannya sama apa yang kau rasakan. Penulis membuat cerita dan penguasa melakuakan dagelan nyata.Dan ingat kepedihan kaum pribumi terjadi kembali. Pungli di mana-mana.” (mendekati Lastri) “Bagaimana Nyai, maukah kau hidup dengan ku?”
Lastri : (Bingung)“Nyai?”
Multatuli : “Ya, Kau, mau kau hidup dengan ku?”
Lastri : “Ya tuan daripada aku hidup dengan orang yang selalu asik dengan dunianya sendiri, lebih baik aku hidup denganmu, aku rindu belaian laki-laki, aku sudah capek harus berpura-pura menjadi istri dari orang yang egois.”
Arya : “Lastri jaga sikapmu”
Lastri : “ Aku sudah bosan denganmu, Aku akan pergi!”
Multatuli : “Ya, dia akan kubawa ke alam ku”
Arya : “kurang ajar kalian. Lastri-lastri!” (berteriak)
Lastri : “Arya! Jadilah Manusia yang berarti” (keluar)
Arya : (kesakitan) “kurang ajar kau Lastri! Tak kusangka kau ternyata perempuan biadap!” (Arya menyerang, tetapi Multatuli mendahuluinya, sampai Arya jatuh pinsan)
Multatuli : “Arya. Hanya kaulah yang bisa mendobrak tetang kekejaman para penguasa di negeri ini dengan tulisan mu. Camkan itu Arya!” (keluar)



(Musik terdengar , Lastri pun keluar dan menghampiri Arya)
Lastri : “Pak, Pak , Bapak!” (Membangunkan)
Arya : “kurang ajar kau Lastri!”
Lastri : “Bapak kenapa”
Arya : (Binggung) “mana si Multatuli akan kubunuh dia!”
Lastri : “Ah! Bapak mimpi ya?, makanya jangan dibiasakan tidur disore hari, tidak baik Pak! Banyak kejadian yang tidur sore selalu mengalami hal yang aneh, bisa-bisa menjadi gila.” Makanya daripada tidur sore buatlah aktivitas yang bermanfaat Pak!
Arya : “Jadi aku tadi mimpi.
Lastri : “Ya, apa lagi kalau bukan mimipi. Sudah bapak lekas mandi, anak-nak dah nunggu di Surau” (Meninggalkan Arya).
Arya : “Oh maafkan aku lastri” (menatap mesin tik) akan kutulis yang tadi aku alami”.
“Tiap hentakan tik ini akan mengeluarkan bunyi, setiap bunyi menghasilkan irama dan irama menjadikannya senandung, maka akan muncullah ribuan nyawa yang keluar dari mesin tik ini berupa karya-karya nan agung. Sebab sebuah karya adalah nafas kebudayaan yang tidak bisa sirna ditelan masa.”

(Musik terdengar)


Tamat

Sabtu, 05 Februari 2011

Resah dalam kenikmatan

kiri kanan larak lirik
komat kamit jerat jerit
ah!
resah dalam kenuikmatan.
irama rintihan memancarkan hasrat!
surga neraka!
surga neraka!
surga neraka!
surga neraka!
ah!
masa bodoh!
nikmati saja!

Rangkasbitung, 6 Februari 2011

Fadri Irman